Senin, 08 Oktober 2012

PUISI 1

Letih

Pena ini masi terus melaju
Menelusuri misteri yang sulit kumengerti
Mencari dan terus mencari
Mencoba tuk terus membenahi diri

Aku melintas sekilas
Ada teriakan yang aku saksikan
Tawa kepuasan tanda keberhasilan
Yang mereka telah dapatkan
Dan aku hanya bisa menjadi saksi bisu
Diatas medali indah mereka

Aku masih disini bersama pena
Dan juga goresan yang entah kapan bisa kuakhiri
1 lembar, 2 lembar, bahkan hampir ribuan kertas,
Sudah aku habisi
Demi kematanganku di Medan juangku

Tiba saatnya, akupun harus bertempur
Oh Tuhan, siapa mereka ini?
Cukup banyak musuh yang tak kukenali
Bagaimana aku menghadang mereka?

Pertempuran selesai!
Aku tidak memberikan yang terbaik
Entah apa yang kusesali
Tapi semua tlah terjadi

Masih ada kesempatan
aku berlatih lagi
Memaksa penaku yang seakan telah menjerit
Letih, dan tidak ingin menari lagi

Dan sekilas kudengar lagi
Ada sorak-sorai di sebrang sana
Untuk yang kesekian kali
Aku pun hanya bisa menjadi saksi
Yang mungkin tak berguna atas teriakan itu

Aku sudah lelah!
Aku letih!
Kapan goresan ini akan kusudahi?
Kapan aku suarakan teriakan itu?
Kapan aku menjadi aktor dari kemenangan itu?

Tengah malam yang menusuk sudah aku kecap
Siang hari yang cukup panas sudah aku tantang
Tapi kapan aku raih itu?
Seberapa bodohkan aku tak mampu menikmati itu?
seberapa hebatkah mereka atas kemenangan itu?

Ingin menjerit sekencang-kencangnya
Tapi percuma, menjerit pun aku tak bisa
Ingin menyesali diri,
Tapi percuma, semua sudah usai

Hidup adalah pilihan,
Dan aku memilih untuk terus berjuang!